Jumat, 28 Januari 2011
LANGGINI NET
BISMILLAH HIRRAHMANIRRAHIM
ASSALAMU'ALAIKUM WARAH MATULLAHI WABARAKATU
Puji syukur kehadirat Allah swt. shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw.
Disini penulis ingin memperkenalkan diri (siapa tau jadi orang terkenal hehehehehe) yang mana penulis adalah seorang anak laki-laki (yang cukup tampan dan manis.. ahaiii) yang di lahirkan di sebuah desa yang sangat indah (bukan "indah" nama orang) penduduk yang ramah tamah, tempat tinggal penulis terletak di pinggir sungai kampar (topi sungai kampau tompek mangorek batu).. penulis bersekolah SD di SDN 038 P. Langgini (sebelumnya bernama SD 062 P. Langgini), setelah menamatkan sekolah penulis melanjutkan sekolah di Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang, selama 7 tahun (bintang sekolah coy... hehehe) disana penulis diajarkan banyak ilmu pengetahuan baik yang bersifat umum maupun yang bersifat agama islam...penulis sangat bersyukur karena telah diajari berbagai ilmu pengetahuan (meski masih sedikit sih pengetahuannya) berbagai pengalaman baik dalam pelajaran maupun dalam pergaulan telah dialami. setelah menamatkan PPDNTB tahun 2005 penulis melanjutkan ke perguruan tinggi di UIN SUSKA RIAU PEKANBARU. mengambil jurusan AQIDAH FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN, lewat pengalaman penulis belajar komputer hingga penulis mengetahui sedikit tentang komputer . dengan modal nekat dan sedikit ilmu (uang ia juga ) di semester III penulis membuka usaha rental computer dan penjualan computer (buat nambah bayar kuliah dan modal hidup hehehe). setelah berjalan beberapa tahun penulis menggantinya dengan WARNET yang bernama warnet langgini (cinta sama kampung).yang masih berjalan sampai saat ini pada tahun 2010 bulan 7 penulis menikahi seorang gadis yang juga satu sekolah dengan penulis di PPDN TB orang manis dan cantiek banget hehehehe..... (jangan pada ngiri ya...maklum orang ganteng gitulo)... istri penulis masih berasal dari orang bangkinang tinggal di daerah kumantan/ TTB...mo tau namanya.....Ny. MUSNELLY....penulis berharap menjadi keluarga sakinah dan mempunyai keturunan yang shalehah (sesuai dengan nama mertua SALEHA).sekian riwayat singkat hidup penulis. untuk pengen tau lebih jauh datang aja ke warnet langgini JL. HR. SOEBRANTAN KM 13.5 PANAM PEKANBARU RIAU.
bangkinang
Nama : saiful bahri
ocu bangkinang / pulau langgini / topi kampau
pelajaran yang cliorganisir dan disusun sesuai dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Dalam proses komunikasi guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi sebagai penerima pesan.
Dalam proses komunikasi, bagaimanapun sederhananya, selalu terjadi urutan pemindahan pesan (informasi) dan sumber pesan ke penerima pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif manakala pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh; dan sebaliknya, sistem komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala penerima pesan tidak dapat menangkap setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan itu dapat rerjadi oleh berbagai gangguan (noise,) yang dapat menghambat kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan (noise,) tersebut memungkinkan penerima pesan (siswa) tidak memahami atau tidak dapat menerima sama. sekali pesan yang ingin disampaikan. Sebagai suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi merupakan prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan. Artinya, bagaimana upaya yang bisa dilakukan agar setiap guru dapat menghilangkan setiap gangguan (noise) yang bisa mengganggu proses komunikasi.
c. Prinsip Kesia pan
Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hukum belajar. Inti dan hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merespons dengan cepat dan setiap stimulus manakala dalam dirinya sudab memiliki kesiapan: sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespon setiap stimulus yang muncul manakala dalam dirinya belum memiliki kesiapan. Yang dapat kita tarik dari hukum belajar ini adalah, agar siswa dapat menerima informasi sebagai stimulus yang kita berikan, terlebih dahulu kita harus memosisikan mereka dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran. Jangan mulai kita sajikan materi pelajaran, manakala siswa belum siap untuk menerimanya. Seperti halnya kerja sebuah komputer, setiap data yang dimasukan akan dapat disimpan dalam memori manakala sudah tersedia file untuk menyimpan data. Setiap data tidak mungkin dapat disimpan manakala belum tersedia filenya. Oleh karena itu, sebelum kita menyampaikan informasi terlebih dahulu kita yakinkan apakah dalam otak anak sudah tersedia file yang sesuai dengan jenis informasi yang akan disampaikan atau belum, kalau seandainya belum maka terlebih dahulu harus kita sediakan dahulu file yang akan menampung setiap informasi yang akan kita sampaikan.
d. Prinsip Berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya benlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. Ekspositori yang berhasil adalah manakala melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan (disequilibrium), sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.
C. Frosedur Felaksanaan Strategi Ekspositori
Sebelum diuraikan tahapan penggunaan strategi ekspositori terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang haruss dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ini.
1. Rumuskan Tujuan yang Ingin Dicapai
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada basil belajar. Tujuan yang spesifik, seperti yang telah dijelaskan di atas, dapat rnemperjelas kepada arah yang ingin dicapai. Dengan demikian, melalui tujuan yang jclas selain dapat mcmbimnbing siswa dalam menyimak mnateni pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan strategi ini.
Sering terjadi, proses pembelajaran dengan cara bertutur, guru terlena dengan pembahasan yang dilakukannya, sehingga materi pelajaran menjadi melebar; tidak fokus pada permasalahan yang sedang dibahas. Dengan rumusan tujuan yang jelas, hal ini tidak akan terjadi. Sebab, tujuan yang harus dicapai akan menjadi faktor pengingat bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
2. Kuasai Materi Peajaran dengan Baik
Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi ekspositori. Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan din guru rneningkat, sehingga guru akan mudah mengelola kelas; ia akan bebas bergerak; berani menatap siswa; tidak takut dengan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran; dan lainlain. Sebaliknya, manakala guru kurang rnenguasai materi pelajaran yang akan disampaikan, ia akan kurang percaya din sehingga ia akan sulit bergerak; takut melakukan kontak mata dengan siswa; menjelaskan materi pelajaran serba tanggung dengan suara yang pelan dan miskin ilustrasi dan lain sebagainya. Akibatnya? Ia akan sulit mengatur irama dan iklim pembelajaran. Guru akan sulit mengontrol dan mengendalikan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
Agar guru dapat menguasai materi pelajaran ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, pelajari sumber-sumber belajar yang mutakhir. Kedua, persiapkan masalah-masalah yang mungkin muncul dengan cara menganalisis materi pelajaran sampai detailnya. Ketiga, buatlah garis besar materi pelajaran yang akan disampaikan untuk memandu dalam penyajian agar tidak melebar.
3. Kenali Medan dan Berbagai Hal yang Dapat Memengaruhi Proses Penyampaian
Mengenali lapangan atau medan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik rnernungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kernungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran. Beberapa hal yang berhubungan dengan medan yang harus dikenali di antaranya, pertama, latar belakang audiens atau siswa yang akan menerima materi, rnisalnya kemampuan dasar atau pengalarnan belajar siswa sesuai dengan materi yang akan disampaikan, minat dan gaya belajar siswa, dn lain sebagainya. Kedua, kondisi ruangan. baik menyangkut luas dan besarnya ruangan, pencahayaan, posisi tempat duduk, maupun kelengkapan ruangan itu sendiri. Pemahaman akan kondisi ruangan itu diperlukan untuk mengatur tempat duduk dan/atau untuk menenipatkan media yang digunakan, misalnya di mana sebaiknya layar OHP atau LCD disimpan, di mana sebaiknya gambar dipasang, dan lain sebagainya.
Keberhasilan penggunaan strategi ekspositori sangat tergantung pada kemampuan guru untuk bertutur atau menyampaikan materi pelaj aran.
Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:
1. Persiapan (preparation)
2. Penyajian (presentation)
3. Menghubungkan (correlation)
4. Menyimpul kan (generalization)
5. Penerapan (aplication)
Setiap langkah itu diuraikan di bawah mi.
1. Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keherhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah:
• Mengajak siswa keluar dan kondisi mental yang pasif.
• Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
• Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
• Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah:
a) Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif
Memberikan sugesti yang positif akan dapat membangkitkan kekuatan pada siswa untuk menenibus rintangan dalam belajar. Sebaliknya. sugesti yang negatif dapat mematikan sernangat belajar. Perhatikan contoh sugesti yang negatif yang diberikan oleh guru sebelum ia menyaj ikan materi pelajaran.
Anak-anak hari ini kita akan mempelajari materi pelajarnn tersulit yang pernah kalian pelajari. Banyak, bahkan hampir semua kakak-kakak kelas kalian yang gagal menguasai materi ini. Oleh sebah itu, kalian hams bersungguh-sungguh untuk belajar agar tidak mendapatkan nasib seperti yang dialami oleh kakak-kaleak kelas kalian.
Apa yang Anda rasakan seandainya guru Anda berkata demikian sebelum ia memulai pelajaran? Ya, pasti dalarn bayangan Anda, Anda akan merasa berat untuk mempelajari materi pelajaran yang akan disampaikan. Seakan-akan Anda akan menghadapi pekerjaan yang sangat “wahhh...” Sehingga sebelum belajar dirnulai energi Anda sudah terkuras habis, selanjutnya Anda pun tidak akan bergairah untuk belajar. Manakala perasaan itu muncul, jangan harap proses pembelajaran akan menghasilkan sesuatu yang kita harapkan. Coba Anda bandingkan dengan pernyataan guru di bawah. ini.
Anak-anak hari ini kita akan mnempelajani mateni pelajarczn yang penuh dengan tantangan dan sangat mengasyikkan. Memang dulu, ada kakak kelas kalian yang kurang nlenguasai materi ini. Saya kira, hal mi disebabkan karena niereka kurang bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Oleh sebab itu, saya harapkan kalian untuk nicningkatkan sedikit motivasi untuk belajar agar materi pelajaran yang sangat penting ini dapat kalian kuasai dengan optimal.
Pernyataan di atas berbeda dengan pernyataan sebelumnya, bukan? Ya, pcrnyataan di atas merupakan pernyataan yang bisa mendorong siswa kita untuk belajar lebih giat. Inilah yang dirnaksud dengan memberikan sugesti yang positif. Siswa tidak akan merasa dibebani, justru mereka akan merasa tertantang untuk rnernpelajari materi pelajaran yang akan disampaikan itu.
b) Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapal
Mengemukakan tujuan sangat penting artinya dalarn setiap proses pembelajaran. Dengan mengernukakan tujuan siswa akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa ke mana mereka. Dengan demikian, tujuan merupakan “pengikat” baik bagi guru maupun bagi siswa. Langkah penting ini sering terlupakan oleh guru. Dalam pembelajaran, guru langsung menjelaskan materi pelajaran. Dengan demikian bagi siswa akan mengalami kesulitan, sebab mereka memerlukan waktu untuk beradaptasi terhadap materi pelajaran yang dibahas. Bahkan, sering terjadi untuk siswa tertentu proses adaptasi mernerlukan wakru yang cukup lama. Artinya, walaupun sudah larna guru bicara tetapi mereka belum mengerti apa yang hendak dicapai oleh pembicaraan guru.
c) Bukaiah file dalam otak siswa
Coba Anda bayangkan, seandainya seorang guru menyampaikan materi pelajaran yang sama sekali asing bagi Anda, artinya materi itu sama sekali materi yang belurn Anda kenal. Anda akan sulit menangkap materi yang disampaikan itu, bukan? Apalagi jika dalam menyampaikan materi itu guru rnenggunakan istilah-istilah yang sama sekali asing di telinga kita.
Bagaikan kerja sebuah komputer, data akan dapat disimpan manakala sudah tersedia filenya. Demikian juga otak siswa, materi pelajaran akan bisa ditangkap dan disimpan dalam memori manakala sudah tersedia file atau kapling yang sesuai. Artinya, sebelum kita menyampaikan materi pelajaran maka terlebih dahulu kita harus membuka file dalam otak siswa agar materi itu bisa cepat ditangkap,
2. Penyajian (Presen (a (loll)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini.
a) Penggunaan bahasa
Penggunaan bahasa merupakan aspek yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan presentasi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa. Pertama, bahasa yang digunakan sebaiknya bahasa yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami. Bahasa yang komunikatif hanya mungkin muncul manakala guru memiliki kemampuan bertutur yang baik. Oleh karenanya, guru dituntut untuk tidak menyajikan materi pelajaran dengan cara membaca. buku atau teks tertulis, tetapi sebaiknya guru menyajikan materi pelajaran secara langsung dengan bahasanya sendiri. Kedua, dalam penggunaan bahasa guru harus memerhatikan tingkat perkembangan audiens atau siswa. Misalnya, penggunaan bahasa untuk anak SD berbeda dengan bahasa untuk tingkat rnahasiswa,
b) Intonasi suara
Intonasi suara adalah pengaturan suara sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Guru yang baik akan mernahami kapan ia harus meninggikan nada suaranya, dan kapan ia harus rnelemahkan suaranya. Pangaturan nada suara akan membuat perhatian siswa tetap terkontrol, sehingga tidak akan mudah bosan.
c) Menjaga kontak mata dengan siswa
Dalam proses penyajian materi pelajaran, kontak mata (eye contact,) merupakan hal yang sangat penting untuk membuat siswa tetap memerhatikan pelajaran. Melalui kontak mata yang selamanya terjaga, siswa bukan hanya akan merasa dihargai oleh guru, akan tetapi juga mereka seakan-akan diajak terlibat dalarn proses penyajian. Oleh sebab itu, guru sebaiknya secara terus-menerus menjaga dan memeliharanya. Pandanglah siswa secara bergiliran, jangan biarkan pandangan mereka tertuju pada hal-hal di luar materi pelajaran.
d) Menggunakan joke-joke yang menyegarkan
Menggunakan joke adalah kemampuan guru untuk menjaga agar kelas tetap hidup dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan joke di antaranya. Pertama, joke yang digunakan harus relevan dengan isi materi yang sedang dibahas. Kedua, sebaiknya joke muncul tidak terlalu sering. Guru yang terlalu sering mernunculkan joke hanya akan membuat kelas seperti dalam suasana pertunjukan. Oleh sebab itu, guru mesti paham kapan sebaiknya ia memunculkan joke-joke tertentu. Guru dapat memunculkan joke apabila dirasakan siswa sudah kehilangan konsentrasinya yang bisa dilihat dan cara mereka duduk yang tidak tenang, cara mereka mernandang atau dengan gejala-gejala perilaku tertentu, misalnya dengan mernain-mainkan alat tulis, mengetuk-ngetuk meja, dan lain sebagainya.
3. Korelasi (Correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalarnan siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah korelasi dilakukan tiada lain untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.
BAGAIN 8-1
Mengorelasikan Bahan Menjadi Lebih Bermakna
Sering terjadi, dalam suatu pembelajaran setelah siswa menerima materi pelajaran dan guru, ia tidak dapat menangkap makna untuk apa materi pelajaran itu dikuasai dan dipahami; apa manfaat materi pelajaran yang telah disampaikan; bagaimana kaitan materi yang baru disampaikan dengan pengetahuan yang telah sejak lama dimilikinya; dan lain sebagainya. Melalui langkah korelasi, semua pertanyaan tersebut tidak perlu ada, sebab dengan mengaitkan (mengorelasikan) materi pelajaran dengan berbagai hal, siswa akan langsung memahaminya.
4. Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core,) dan materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam strategi ekspositori, sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dan proses penyajian. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Dengan demikian, siswa tidak merasa ragu lagi akan penjelasan guru. Kalau diibaratkan dengan memasukkan data pada suatu proses penggunaan komputer, menyimpulkan adalah proses men-save data tersebut, sehingga data yang baru saja dimasukkannya akan tarsimpan di memori, dan akan muncul kembali manakala dipanggil untuk digunakan. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya pertama, dengan cara mengulang kembali intiinti materi yang menjadi pokok persoalan. Dengan cara demikian, diharapkan siswa dapat menangkap inti materi yang telah disajikan. Kedua, dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan. Dengan cara dernikian, diharapkan siswa dapat mengingat kembali keseluruhan materi pelajaran yang telah dibahas. Ketiga, dengan cara maping melalui pemetaan keterkaitan antar materi pokok-pokok materi.
5. Mengaplikasikan (Aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa Setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah mi merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini di antaranya, pertama, dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan. Kedua, dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.
D. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori
1. Keunggulan
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
a. Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
b. Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang hartis dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
c. Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
d. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jurnlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
2. Kelemahan
Di samping memiliki keunggulan, strategi ekspositori juga memiliki kelemahan, di antaranya:
a. Strategi pembelajaran ini hanya rnungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik. Untuk siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi yang lain.
b. Strategi mi tidak mungkmn dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
c. Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
d. Keberhasilan s trategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepacla apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.
e. Oleh karena gaya komunikasi strategi pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.
Rabu, 19 Januari 2011
Senin, 10 Januari 2011
ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI SEWA PADA LESSOR PT. RIAU INTAN KENCANA PEKANBARU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dengan semakin menjamurnya perusahaan – perusahaan besar di Indonesia, baik itu perusahaan swasta maupun pemerintah, merupakan bukti nyata bahwa semakin meningkatnya perkembangan perekonomian Indonesia akan tetapi satu masalah yang tidak dapat dipungkiri oleh perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya adalah masalah dana ini bagi perusahaan-perusahaan bisa teratasi dengan adanya sumber pembiayaan barang modal yang relative baru di Indonesia yaitu sector leasing atau sewa guna usaha.
Lease adalah perjanjian kontraktual antara lessor dan lessee yang memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan property tertentu, yang dimiliki oleh lessor, selama periode waktu tertentu dengan membayar sejumlah uang (sewa) yang sudah ditentukan, yang umumnya dilakukan secara periodic. Unsur penting dari perjanjian lease adalah bahwa hak kepemilikan lessor atas property yang dilease menjadi berkurang.
Karena lease adalah suatu kontrak, maka perjanjian yang disetujui oleh lessor dan lesse dapat sangat bervariasi dan hanya dibatasi oleh keinginan kedua pihak. Durasi (duration)-jangka waktu lease – lease dapat bervariasi dari periode waktu yang pendek hingga seluruh umur manfaat dari aktiva bersangkutan. Pembayaran sewa (rental payments) dapat dilakukan dari tahun ke tahun dalam jumlah yang meningkat atau menurun ; sementara nilainya dapat ditetapkan terlebih dahulu atau dapat bervariasi dengan penjualan, suku bunga utama, indeks harga konsumen, atau beberapa factor lainnya. Umumnya jumlah sewa ditetapkan sedemikian rupa sehingga lessor dapat menutup biaya aktiva itu ditambah pengembalian yang wajar selama masa lease.
Dari segi akuntansi dengan meluasnya kegiatan sewa guna usaha tersebut menuntut adanya pemahaman terhadap standar atau peraturan- peraturan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Pada tahun 1990 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) bersama Asosiasi Leasing Indonesia (ALI), Direktorat Jendral Moneter (DJM) dan Direktorat Jendral Pajak (DJP) berhasil menyusun Standar Akuntansi Sewa Guna Usaha yang akan digunakan sebagai pedoman dalam perlakuan dan pelaporan transaksi sewa guna usaha (lesse). Yang kemudian di tegaskan lagi dengan dikeluarkannya Standar Akuntansi Keuangan tahun 2007 pernyataan no.30.
Leasing ditinjau dari sudut lesse dapat di klasifikasikan atas dua jenis. Kedua jenis leasing tersebut adalah sewa pembiayaan (finance lease) dan sewa operasi (operating lease). Klasifikasi sewa digunakan dalam pernyataan ini didasarkan atas sewaan berada pada lessor / lesse. Manfaat dapat tecermin dari ekspektasi operasi yang menguntungkan selama umur ekonomis/ laba dari kenaikan nilai/ realisasi dari nilai residu.
Pengertian tersebut ternyata tidak banyak merubah pengertian dasar sewa guna usaha untuk melakukan kegiatan usahanya dalam operating lease yang pada hakekatnya merupakan usaha sewa menyewa biasa.
Satu hal yang menarik adalah kenyataan bahwa masih sedikit sekali penelitian yang diadakan pada pihak lessor. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Wijiningsi (1996) yang menyatakan bahwa lessor yang ditelitinya belumlah menunjukkan akuntansi leasing yang sesuai dengan PSAK No. 30. Hal ini didukung dengan bukti-bukti sebagai berikut:
1. Lessor telah salah memperlakukan teransaksi Direct Finance Lease menjadi transaksi Operating Lease.
2. Pada saat penyerahan aktiva sewa guna usaha, lessor mencatat sebagai aktiva tetap sebesar harga perolehan padahal seharusnya sejumlah penanaman nettonya dalam perkiraan piutang sewa guna usaha.
3. Lessor melakukan penyusutan terhadap aktiva tersebut, padahal seharusnya sebagai Direct Finance Lease lessor tidak boleh melakukan penyusutan terhadap aktiva sewa guna usaha karena seluruh manfaat serta resiko kepemilikan aktiva tersebut sudah beralih kepada lessee.
4. Perusahaan tidak mencatat adanya pendapatan lease yang ditangguhkan.
5. Dalam mengakui biaya langsung mula-mula, lessor hanya mencatatnya sebagai biaya lain-lain dan tidak mencatat pembebanannya sebagai pendapatan lease yang ditangguhkan.
Kenyataan ini menyebabkan penelitian ini di pihak lessor cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut.Diantara sekian banyak perusahaan yang bergerak dibidang pembiayaan, salah satunya adalah PT. Riau Intan Kencana yang berkedudukan di Pekanbaru. PT. Riau Intan Kencana adalah salah satu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang bergerak di bidang pemasaran mobil, jasa pengangkutan,jasa kontraktor dan leasing. Sewa guna usaha ini adalah menyewakan kendaraan pada beberapa perusahaan antara lain pada PT. Cevron Pacific Indonesia.
Dalam perolehan kendaraan ini PT. Riau Intan Kencana langsung membeli kendaraan tersebut, dan kemudian menyewakan kepada pihak penyewa. Aktiva tetap kendaraan ini terdiri atas kendaraan untuk operasi perusahaan dan kendaraan yang disewakan jumlah kendaraan yang disewakan adalah sebanyak 440 unit untuk beberapa daerah operasi.
Seluruh kendaraan tersebut baik untuk operasi perusahaan maupun yang disewakan disusutkan dengan metode garis lurus, dan digolongkan sebagai operating lease. Dari transaksi leasing yang dilakukan oleh PT. Riau Intan Kencana, penulis menemukan kekeliruan-kekeliruan dalam perlakuan pencatatan dan pelaporan transaksi leasing tersebut.
Pertama, Perusahaan membeli Kendaraan secara kredit, Kemudian kendaraan tersebut disewa guna usahakan dengan perjanjian operating lease pada PT. Cevron Pacific Indonesia. Salah satu pencatatan pembayaran aktiva yang disewa guna usahakan dengan data-data sebagai berikut:
PT. Riau Intan Kencana meleasingkan mobil Ford Escape kepada PT.Cevron Pacifik Indonesia pada tanggal 1 Januari 2007 sebesar Rp.75.572.160,- / tahun, termasuk biaya pelaksanaan Rp.2.072.160,- / tahun. Harga perolehan mobil tersebut adalah Rp. 335.600.000,- bagi PT.Riau Intan Kencana. Biaya langsung awal Rp.16.224.000,- dikeluarkan untuk memperoleh dan menyelesaikan sewa guna usaha. Kendaraan memiliki perkiraan umur 8 tahun, tanpa nilai sisa.
Yang menjadi masalah lessor tidak mencatat biaya langsung awal ditangguhkan sebesar Rp. 16.224.000 pada kas, tetapi perusahaan hanya mencatat Kas sebesar Rp.75.572.160,- pada Pendapatan sewa sebesar Rp.73.500.000,- dan biaya pelaksanaan sebesar Rp.2.072.160,-
Begitu juga pelaksanaan kegiatan sewa guna usaha perusahaan telah mencatat dan melaporkan kendaraan yang di sewakan disatukan dengan kendaraan yang dipakai untuk operasional .
Selanjutnya,.dalam neraca dan laporan laba rugi akhir periode 2007 perusahaan tidak melakukan pemisahan / alokasi terhadap penyusutan aktiva yang diperoleh dalam operasional dengan penyusutan aktiva yang di sewa guna usahakan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melaksanakan penelitian untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi sewa guna usaha tersebut diterapkan diperusahaan. Adapun judul yang penulis pilih adalah :
“Analisis Perlakuan Akuntansi Leasing Pada Lessor PT. Riau Intan Kencana Pekanbaru.“
B. Perumusan masalah
Dari uraian yang telah dibahas pada bagian pertama diatas, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas pada penulisan skripsi ini yaitu :
“Apakah perlakuan akuntansi sewa guna usaha dan pelaporannya dalam laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan?”
C. Tujuan Penelitian dan manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui apakah Perlakuan Akuntansi Leasing dan pelaporannya telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Penulis, yaitu untuk menambah wawasan mengenai akuntansi Leasing dan memahami bagaimana penerapannya pada PT. Riau Intan Kencana dan pengungkapan dalam Laporan keuangan.
2. Untuk dapat memberikan sumbangan pemikiran yang dapat dijadikan sebagai masukan bagi Perusahaan
3. Sebagai referensi untuk penelitian Leasing pada masa yang akan datang.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar terdiri dari 5 ( lima) Bab dan tiap bab akan dirinci lagi menjadi beberapa Sub Bab. Uraian tersebut adalah sebagai berikut :
BAB I : Merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Pada bab ini penulis akan menguraikan segala hal mengenai pengertian sewa guna usaha, klasifikasi leasing, ketentuan dalam kontrak leasing, perlakuan akuntansi dari sudut lessee, pelaporan leasing oleh lessee.
BAB III : Menguraikan sejarah ringkas perusahaan, struktur organisasi dan gambaran umum kegiatan perusahaan.
BAB IV : Berisikan analisis dan penelitian terhap kontrak leasing antara perusahaan dengan lessor dan perlakuan serta penyajian transaksi leasing di neraca yang diterapkan perusahaan.
BAB V : Berisikan kesimpulan yang diperoleh serta saran-saran yang diharapkan dapat membantu perusahaan atas kebijaksanaan Akuntansi Sewa Guna Usaha (Leasing).
Langganan:
Komentar (Atom)
